08/2009

Laman

Selasa

Sebuah Pencerahan Jiwa

Setiap individu punya ‘raksasa’ yang sedang tidur di dalam dirinya. Namun ada beban tak kasat mata yang tersimpan di alam bawah sadarnya.

Ciloto, Selasa pagi yang sejuk dan berembun. Udara menguarkan wangi tanah basah sehabis hujan malam sebelumnya. Seratus enam puluh tujuh orang memasuki aula dimana kursi-kursi telah disingkirkan ke dinding belakang. Senyum lebar mewarnai wajah para kru fasilitator yang sebelumnya begitu serius. Dance music menghentak dengan nada-nada gembira. Hari itu, Selasa, 25 April 2006, menandai usainya Value Your Life – A Life Changing Bootcamp angkatan ke-36.

Wajah-wajah para peserta Bootcamp tak kalah ceria. Mereka telah berhasil melepaskan berbagai persoalan hidup, yang disadari ataupun tidak, tertanggung di pundak mereka selama ini.


“Saya jadi lebih percaya diri, berpikir positif, lebih easy menghadapi tantangan. Hidup terasa lebih indah dari sebelumnya,” ujar Lista Sulistyawati, 31, salah seorang peserta Bootcamp dari Jakarta.


Banyak kisah menarik, yang mengharukan dan menimbulkan inspirasi, diperoleh di Bootcamp, ketika berbagai individu berinteraksi satu sama lain. Semua peserta yang datang dari berbagai daerah di Tanah Air itu bermaksud mencari jati diri, memperoleh pencerahan, mendapatkan kepercayaan diri dan hidup lebih positif.


Kenny, salah seorang crew Bootcamp, mengaku banyak sekali melihat perubahan para peserta yang telah mengikuti program ini. “Saya melihat bahwa peserta yang datang adalah orang-orang yang mau melepaskan beban mereka, tapi tidak tahu caranya,” ujarnya.
Sebagian lagi malah mempunyai banyak masalah atau beban hidup yang tidak mereka sadari. Selama mengikuti Bootcamp, para peserta dibimbing untuk bisa melihat beban mereka, dan mengetahui cara melepaskan beban tersebut.


Para peserta banyak mendapatkan inspirasi dan motivasi dari mentor maupun dari sesama peserta. Sang mentor–di Bootcamp dipanggil Coach– adalah Onggy Hianata. Inspirator dan motivator yang sudah melanglang buana ke berbagai negara dan menyelenggarakan berbagai pelatihan dan seminar di bidang pengembangan mental dan kepribadian. Ia yang menyusun berbagai materi simulasi yang membangkitkan semangat hidup bagi peserta A Life Changing Bootcamp.


Bootcamp sendiri merupakan sebuah program yang dirancang sedemikian rupa oleh Edunet International. Lembaga ini didirikan Onggy Hianata dan teman-temannya dan bergerak di bidang pembinaan dan pengembangan potensi, mental dan kepribadian.

Perubahan positif
Selama tiga hari dua malam, peserta mengikuti berbagai simulasi yang sarat dengan makna dan filosofi. Program ini telah dilakukan sejak awal 2003, dan diselenggarakan di Ciloto, Bali, Medan, Palembang, Batam dan Surabaya.


Setelah mengikuti Bootcamp, para peserta Sebagai salah satu alumni Bootcamp, Kenny juga mengakui banyak mengalami perubahan positif dan terinspirasi untuk membuat hidupnya menjadi lebih baik lagi.


Perubahan positif dalam menjalani hidup juga dirasakan Doddi Ferdinarta, 31, alumni Bootcamp ke-7, tahun 2003. Itu sebabnya, seperti halnya Kenny, ia dan isterinya Lisa Nasution yang juga alumni Bootcamp, dengan sukarela menyisihkan waktu dan tenaganya menjadi crew atau fasilitator bagi adik-adik angkatannya. Sebab mereka ingin ikut membantu orang lain untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih positif.


“Forgive and forget” adalah salah satu prinsip yang selalu ditekankan Onggy pada para peserta. Masa lalu yang pahit seringkali menjadi beban yang tak terlihat. Dengan memaafkan dan melupakan, hidup baru pun terbentang.


Peserta yang kecanduan rokok, minuman keras, judi, pornografi atau narkoba bisa melepaskan diri dari ketergantungannya. Banyak yang sembuh dari trauma dan phobia-nya, merasa lebih percaya diri, rajin beribadah dan rumah tangganya menjadi lebih harmonis.


Salah seorang peserta, Wildayani, 23, mengaku berhasil menghapuskan trauma dan rasa dendamnya atas pembunuhan ayahnya 20 tahun yang lalu. Di Bootcamp, staf sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berdomisili di Banda Aceh ini belajar memaafkan dan melupakan. “Saya sadar, dendam itu tidak akan membuat Papa saya hidup kembali. Dan dendam itu hanya akan menghambat saya untuk berkarir,” ujarnya.


Para peserta Bootcamp yang datang dari Aceh sampai Papua kini telah kembali ke daerahnya masing-masing. Mereka telah menemukan jati diri dan tujuan hidupnya. Siap menaklukkan tantangan dan meraih kesuksesan. Dan semuanya berpendapat sama: Bootcamp memang luar biasa!


Testimonial BC

Banyak yang tidak tahu cara melepas beban persoalan hidup dan memunculkan sisi positif dalam dirinya. Setelah ikut Bootcamp (BC), mereka menjalani hidup dengan lebih baik.

1. Doddi Ferdinarta, 31, Jakarta, enterpreneur
Saya adalah alumni BC angkatan VII, Agustus 2003. Karena Bootcamp, saya dan isteri saya, Lisa Nasution, makin saling memahami dan menghargai satu sama lain. Kami punya lebih banyak waktu untuk kedua anak kami, karena impian kami adalah menjadi keluarga bagaikan lilin-lilin kecil yang menerangi bangsa ini. Dan untuk mengubah bangsa ini, tidak ada jalan lain kecuali saya mengubah diri saya sendiri.


Saya yakin tidak bisa mengharapkan perubahan jika saya tetap pada langkah yang sama, artinya saya harus mengambil tindakan baru untuk mencapai tujuan yang telah lama saya cari.
Karena banyak perubahan positif itulah maka saya dengan sukarela mendaftar sebagai kru Bootcamp. Saya rela menjadi kru setiap BC berlangsung, karena dapat ikut membantu saudara-saudara kita untuk memiliki kehidupan yang lebih baik tanpa Narkoba, pornografi, alkohol, judi. Dan yang jauh lebih penting, suatu hari lahir generasi baru penerus bangsa yang memimpin dengan hati nurani. Saya yakin Indonesia bangkit dengan menciptakan jiwa-jiwa bangsa yang mengerti arti kehidupan. Dan “Value Your Life-A Life Changing Bootcamp” mempunyai peran atas terjadinya hal tersebut. Semangat idealisme saya ini terlahir melalui Bootcamp. Thanks Coach Bapak Onggy Hianata.

2. Widodo, 31, Magelang, networker.
Selama ini saya pernah mendapat training dari berbagai pembicara/motivator top di Indonesia, semua yang pernah saya dapatkan sifatnya lebih ke soal pekerjaan/karir, tetapi Training BC yg pernah saya ikuti sangat berbeda sekali karena saya disadarkan tentang arti hidup. Saya jadi lebih menghargai hidup yang diberikan Tuhan dengan sebaik-baiknya. Dan dengan BC saya bisa mulai mengontrol kehidupan saya. Yang saya rasakan setelah ikut BC ataupun waktu jadi crew adalah, ternyata ada banyak keajaiban di sekitar kita, yang selama ini banyak orang tidak menyadarinya.

3. Lista Sulistyawati, 31, Jakarta, karyawati bank.
Saya jadi lebih percaya diri, berpikir positif, lebih easy menghadapi tantangan. Life more beautiful than before.

4. Burhannudin, 21, Bali, buruh bangunan
Setelah ikut BC, saya menjadi rajin beribadah, lebih percaya diri, lebih bersemangat dan selalu berpikir positif. Pokoknya BC luar biasa.

5. Asrinawati, 30, Banda Aceh, staf LSM
Sebelum ikut BC hidup saya serasa penuh beban, masalah kecil sering dibesar-besarkan. Saya juga sulit mengontrol emosi. Setelah BC, saya benar-benar merasa bahwa hidup itu indah. Saya mampu mengontrol emosi, lebih percaya diri. Hidup ini terasa ringan dan enjoy. Hubungan dengan suami dan anak-anak lebih harmonis. I love my family. Terima kasih pada Pak Onggy yang mengajarkan saya rendah hati, forgive & forget. Mempraktekkannya memang sulit, tetapi setelah berhasil dipraktekkan banyak keajaiban terjadi dalam hidup saya.

6. Sunny, 28, Jakarta, karyawati finance & accounting
Bootcamp dashyat! Selama 3 hari 2 malam saya kurang tidur, namun tetap semangat. Saya melepaskan beban hidup yang tanpa disadari selama ini ada di pundak saya. Tidak lagi berpikiran negatif terhadap segala sesuatu, namun selalu bersikap positif karena hidup itu indah. Hubungan saya dengan kedua kakak, terutama dengan kakak lelaki saya, jauh lebih baik karena saya menyadari bahwa saya ‘membunuh’ dia dengan perlakuan saya selama ini, padahal saya sangat sayang dan peduli terhadap kakak. Saya menjadi manusia baru dengan semangat baru untuk membuat hidup ini jauh lebih indah dan berarti untuk orang-orang yang saya sayangi.

7. Kenny, 27, Jakarta, karyawan
Saya banyak sekali melihat perubahan para peserta yang telah mengikuti bootcamp. Sebelumnya mungkin mereka mempunyai banyak masalah atau beban tetapi tidak kasat mata. Di dalam bootcamp ternyata mereka mampu untuk melihat beban dan masalah mereka dan mengetahui caranya untuk meletakkan beban tersebut. Saya merasa bahwa peseta yang datang adalah orang-orang yang mau melepaskan beban mereka, tapi tidak tahu caranya.
Saya pun setelah mengikuti bootcamp banyak mengalami perubahan dan terinspirasi untuk membuat hidup ini menjadi lebih baik lagi. Saya rasa para peserta pun banyak mendapatkan sesuatu dari bootcamp, entah dari mentor, training-nya sendiri, atau pun dari sesama peserta.

8. Leo Susantho, 26, Jakarta, karyawan
Setelah ikut BC, banyak sekali yang saya dapat. Saya jadi lebih percaya diri, lebih menghargai dan percaya pada orang lain, berpikiran positif, semangat hidup tinggi, berani mengakui kesalahan pada orang lain. Hidup itu ternyata indah!

9. Terry Dharmawan, 47 tahun, Jakarta, ibu rumah tangga
Saya sudah merokok sejak umur 12 tahun. Saya menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok dalam sehari. Saya bersyukur kedua anak saya tidak mencontoh perbuatan saya yang tidak baik. Sering saya berjanji kepada anak-anak saya untuk berhenti merokok, tapi saya tidak bisa menepatinya. Setelah salah satu anak saya ikut Bootcamp, ia menganjurkan saya dan suami untuk ikut Bootcamp berikutnya. Setelah ikut Bootcamp, saya baru menyadari betapa berharga dan indahnya hidup ini. Saya berjanji pada Tuhan dan diri saya sendiri untuk hidup sehat (bebas rokok), karena masih banyak impian yang harus saya raih bersama keluarga saya. Setelah Bootcamp, komunikasi antara saya dengan anak perempuan saya jadi lebih baik. Saya juga ingin mengikutsertakan anak perempuan saya ke training Bootcamp. Saya juga berharap makin banyak masyarakat ikut Bootcamp, agar bangsa Indonesia hidup lebih baik dan berguna bagi sesama manusia.

Onggy Hianata: Tak Rela Melihat Uang Tidur

Kamis, 22 Juli 2004
Oleh : Eva Martha Rahayu
Beberapa kali jatuh-bangun dalam mengelola investasi sektor riil, ia tak putus asa. Lalu, ia mendiversifikasi investasinya: 40% properti, 35% sektor riil, 20% sektor keuangan dan 5% emas. Kini ia merasa aman dengan portofolio pribadinya.
 
Sering kita terjebak pada mindset untuk apa investasi direncanakan. Eyang dan orang tua kita tak melakukan perencanaan investasi, toh tetap hidup, bahkan lebih makmur. Biarkan saja hidup ini mengalir bak air yang turun dari atas. Namun, dalam benak Onggy Hianata, pikiran pesimistis itu sudah dikubur dalam-dalam. 
Onggy merasa terlahir kembali. Setelah membaca buku The Richestman from Babylonia, ia segera menata ulang prinsip pengelolaan keuangannya selama ini. Buku itu mengajarkan bagaimana orang-orang di Babilonia menjadi kaya. Kuncinya, 10% penghasilan mereka disisihkan untuk investasi. ?Kita harus membayar diri sendiri,? Direktur Pengelola PT EduNet Internasional itu mengungkapkan. Maksudnya, jika kita menerima pendapatan 100%, harus disisihkan 10% untuk tabungan rekening pribadi. Dana ini tidak boleh diutak-atik sampai hari tua tiba. ?Jujur saja, setelah membaca buku itulah saya lebih hati-hati dalam mengelola keuangan,? tambah lulusan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Surabaya ini. Setelah itu, ia pun merasakan kenikmatan menjadi orang yang bebas masalah finansial.
Selain mengalokasikan 10% investasi untuk dana abadi, Onggy juga getol memutar pendapatannya ke beberapa instrumen investasi. Pria kelahiran Tarakan, Kalimantan Timur, 6 Maret 1962, ini membagi portofolionya: 5% emas, 20% sektor keuangan (termasuk 10% untuk tabungan yang tak boleh diutak-atik), 35% sektor riil dan 40% properti.
Investasi sektor keuangan bentuknya berupa tabungan dan deposito (10%), saham (5%) serta asuransi (5%). Onggy mengaku tertarik main saham lantaran terpengaruh teman-temannya. Ia tidak mau ambil risiko besar dengan bermain saham-saham spekulatif. Maka,  ia sengaja memilih saham papan utama yang karakternya aman-aman saja. Pun, dana yang ditempatkan di instrumen efek ini tak signifikan. ?Karena, bukan bidang saya dan saya tidak mendalami,? ungkap Onggy. 
Pembelian produk asuransi pun alokasinya minim: kurang-lebih 5%. Menurutnya, tujuan asuransi adalah memproteksi diri sendiri dan keluarga. Macam produk asuransi yang dibeli ada dua: asuransi jiwa dan pendidikan untuk dua anaknya. Pertimbangan Onggy membeli polis asuransi: reputasi perusahaan, besar benefit yang ditawarkan dan layanannya.
Investasi dalam bentuk koin emas dengan bujet 5% dilakoni Onggy dalam empat tahun terakhir. Logam mulia menjadi salah satu pilihan investasi lantaran harganya mengikuti perkembangan fluktuasi US$. Tambahan lagi, dalam sejarah harga emas tidak pernah jatuh di pasaran internasional. 
Keranjang investasi Onggy berikutnya adalah properti. Mayoritas investasinya tersedot di instrumen ini, yakni mencapai 40%. Bentuknya: rumah, tanah, kios dan apartemen. Pria berkacamata minus ini mengaku memiliki rumah untuk kos-kosan di Jakarta Barat. ?Rumah kos itu lebih menguntungkan karena memberikan flat income dan cepat mendapatkan penyewanya. Beda dengan apartemen, saat dibeli belum tentu langsung disewa orang lain,? ungkapnya. 
Apartemen yang dimiliki Onggy, ada beberapa unit, berlokasi di dekat perkantoran di Jak-Bar. Agar duit berkembang biak, ia menyewakan semua apartemennya, termasuk salah satu yang tengah dibangun.
Tak puas hanya memiliki rumah, tanah dan apartemen, kios pun disergapnya. Ia membeli kios di Mangga Dua Square. Lagi-lagi properti ini tidak ditempati sendiri, tetapi disewakan ke orang lain yang lebih membutuhkan untuk bisnis.
Dalam membeli produk properti, Onggy tidak semata?mata melihat harga, tapi juga track record pengembang dan lokasinya. Pilihannya, yang dekat kampus atau perkantoran agar lebih gampang disewakan, akses mudah dijangkau dan prospek lingkungannya bagus. Properti tersebut ada yang dibeli di pasar primer (baru) ataupun sekunder. ?Enaknya kalau beli di pasar primer, kadang ada diskon,? ujarnya.
Ladang investasi Onggy berikutnya adalah sektor riil. Investasi yang menyerap dana 35% dari total portofolionya itu dilakukan bersama beberapa mitra. Tujuannya, selain untuk membagi risiko, juga untuk bersama memajukan bisnis dengan orang-orang yang punya visi sejalan. Salah satunya, bisnis pelatihan, pengembangan kepribadian, motivator dan berbagai program pembinaan mental yang didirikan setahun lalu.
Kesadaran Onggy akan pentingnya investasi itu pun membuahkan hasil. Beberapa pengalaman berkesan dalam menggelembungkan pundi-pundinya dirasakan dari sektor properti. Pertama, untung saat membeli rumah di kawasan dekat tol Jagorawi tahun 1999: harganya terkerek 50% hanya dalam tempo setahun. Lalu, menikmati return dari kenaikan harga apartemen di Jak-Bar. Harga apartemen itu naik sekitar 20% selama setahun. 
Akan tetapi, meski cukup hati-hati dalam berinvestasi, Onggy pun tak luput dari ancaman rugi. Kegagalan demi kegagalan dialaminya. ?Kerugian banyak saya alami di investasi sektor riil,? katanya. Ia berkali-kali jatuh-bangun gara-gara investasi di beberapa usaha bersama temannya. Ceritanya begini. Enam tahun lalu ia dan dua kawannya mendirikan usaha pemasaran produk kesehatan impor. Namun, dalam waktu kurang dari dua tahun sudah gulung tikar. ?Modal kami nyaris habis,? kata Onggy yang enggan menyebutkan nilai kerugian yang dideritanya.
Di investasi sektor riil, ia mengaku berani ambil risiko. Sebaliknya, di investasi lainnya, ia cenderung konservatif. ?Mungkin karena saya suka mencoba bisnis baru,? paparnya. Padahal, sebelum mengalami kerugian di bisnis pemasaran produk kesehatan itu, tahun 1986 ia babak belur mengelola bisnis produksi snack di Surabaya. 
Kapok? Tidak juga. Bagi Onggy, siapa pun dapat bangkit dari jatuhnya, asal tidak pernah menyerah. Pantang menyerah ini mesti dibarengi dengan manajemen yang lebih baik. Itulah sebabnya, dalam bisnis berikutnya ia tak sekadar nekat, karena sudah merasakan asam garamnya dunia bisnis. Pelajaran berharga yang ia petik dari beberapa pengalaman gagal investasi di sektor riil: menerapkan manajemen perusahaan secara profesional sangat penting, modal harus kuat, dan mesti bermitra dengan investor yang sama visinya.
 URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/portofolio/details.php?cid=1&id=699

Onggy Hianata: Kalau Saya Bisa, Anda Juga Bisa

TARAKAN, Kalimantan Timur, pertengahan tahun 1974. Onggy, masa itu umurnya belum genap 12 tahun, terlibat perkelahian dengan warga setempat, teman main, serta rekan satu kelas di sekolah dasar dan juga satu kampung. Dia menang. Akan tetapi, yang sangat mengejutkan, sambil menangis, lawannya berteriak, "Kau pulang saja ke Hongkong sana, pulang…."teriaknya


"Akhirnya saya tahu. Karena saya keturunan China, rekan tadi menyuruh saya pulang ke negara leluhur, Hongkong." Onggy merasa perlu mengungkapkan ini untuk menunjukkan, "… ternyata banyak persepsi keliru masih bertebaran dalam masyarakat, sebagaimana umpatan rekan tersebut. Hal itu dikarenakan keturunan China dipastikan berasal dari Hongkong, sedangkan saya lahir di Tarakan, makan mandi di tepi sungai, dan enggak bisa ngomong bahasa Mandarin satu kata pun...."

Di manakah awal kericuhannya?

Menurut Onggy, "… akibat pendidikan kurang, wawasan terbatas, maka kesalahan mudah terjadi, terutama menimpa generasi tua dari kedua belah pihak pada masa lalu. Kami yang warga keturunan dijejali nasihat, pribumi malas, sulit dipercaya, dan sebagainya. Sementara di sisi lain, orang China dikatakan serakah, mendewakan uang, dan lain-lainnya. Sikap sapu bersih semacam ini jelas keliru. Manusia terdiri dari pribadi, bisa mencerna pengalaman dan memahami kebenaran. Mereka bukan robot yang selalu sama dan sejenis." Tentang bekas lawannya, Onggy melukiskan, "Sekarang kami sudah lebih dari saudara. Setiap pulang kampung selalu bertemu dan sama-sama geli menertawakan kebodohan masa kecil…."
 

KEBODOHAN memang bencana yang harus diatasi. Sebagaimana kemiskinan yang sejak kecil menimpa Onggy. "Saya anak nomor delapan dari sembilan bersaudara. Ayah saya pegawai toko kelontong." Meskipun demikian, dia sangat bangga kepada Ong Tjoi Moy, ayahnya. "Sebelum meninggal (tahun 1981), Papah mengumpulkan semua anaknya, mewariskan pesan, jaga nama baik dan integritas."

Kedua pesan tersebut langsung menjadi kenyataan. "Ketika upacara penguburan, pelayat yang datang mengiringi jenazahnya melimpah ruah sampai ke tepi liang kubur. Seminggu sebelumnya, seorang cukong paling kaya dan banyak catatan kriminalnya juga meninggal dunia di Tarakan. Yang mengantar ke kuburan tidak lebih dari 20 orang, semua keluarga dekat. "Ini membuktikan, menanam kebaikan akan dipanen semasa kematian, begitu juga sebaliknya."

Nama baik dan integritas menjadi andalan Onggy ketika pada tahun 1983 ia merantau ke Surabaya untuk mengikuti pendidikan tinggi bahasa. Di sela-sela waktu kuliah, dia mencari uang untuk biaya hidup. "Aneka pekerjaan pernah saya jalani, mulai dari pedagang keliling buku sampai membikin kerupuk ubi, mulai dari berjualan lotre Porkas hingga berjualan jagung bakar di depan kampus, serta ikut bisnis pemasaran jaringan (multilevel marketing)."

Bisnisnya selalu jatuh bangun, tidak lestari akibat situasi dan kondisi sering berubah. Sebagai juragan kerupuk ubi, misalnya, ketika pesanan kerupuk ubi sudah mulai banyak, ia ditipu rekannya. Sewaktu Porkas ramai, mendadak kebijakan berubah. "Porkas berhenti, saya kembali bangkrut…," katanya.

Sekalipun jatuh bangun, Onggy tetap maju dengan berusaha menjaga nama baik dan integritas. "Maka, peluang selalu terbuka sebab kedua pesan warisan Papah merupakan modal tak ternilai. Dalam dunia bisnis kepercayaan adalah nomor satu. Sekali Anda menipu, selamanya semua pintu tertutup sekaligus menutup kesempatan." Pedoman lain yang dia petik dari pengalamannya yang jatuh bangun adalah "forgive and forget, maafkan dan lupakan. Perjalanan hidup masih panjang, kalau selalu mengenang kegagalan, bagaimana berani menempuh masa depan?

TEKAD ini pula yang dia bawa ke Jakarta awal Januari 1998. Praktis tanpa bekal karena ia baru saja mengalami kebangkrutan. Bahkan, ia harus membawa istri (Chandra Dewi, asal Bali, yang dinikahinya tahun 1995) berikut bayi merah berumur satu bulan, Rich Onggy Jr.

"Orang China kuno percaya hoki, keberuntungan. Akan tetapi, saya yakin, bukan hoki yang menjadikan seseorang sukses, melainkan bagaimana kecermatan dalam menekuni peluang." Keyakinan tersebut harus dipupuk dengan catatan nama baik yang akan dijadikan pegangan oleh orang luar untuk menilai integritas kita. Pada diri Onggy, dalam situasi terpuruk di Jakarta, seorang bekas seniornya (up line) pada bisnis jaringan menghubunginya. Dari Swedia orang itu menawarkan peluang bisnis, yaitu berjualan koin emas.

"Pemasaran, meski konsepnya bagus, tanpa dukungan integritas dan bonafiditas pribadi tidak bakal jalan." Yakin kalau track record-nya selama ini tidak mengecewakan, Onggy dengan bersemangat kembali membangun bisnis pemasaran jaringan *********. Setelah tiga tahun di sana, pada dua tahun terakhir dengan jaringan 60.000 orang tersebar di 36 negara, Onggy berhasil meraih penghargaan top leader dengan penghasilan terbesar di dunia. Keberuntungannya telah bertolak belakang dengan ketika dia pertama kali ke Jakarta, empat tahun lalu, di tengah kebangkrutan.

"Impian semasa di kampung hampir semuanya kini sudah bisa saya raih. Menjadi kaya bukan kejahatan, asal dilakukan dengan jalan lurus, tidak menipu dan tidak menodai nama baik kita, sebagaimana pesan ayah." Selain masih tetap ikut bisnis jaringan, Onggy juga mengembangkan usaha pribadi di bidang pendidikan, Edunet International. "Saya ingat kata-kata Robert Kiyosaki, lebih baik hidup dengan punya pilihan. Bisa memilih pekerjaan, bukan dengan harus selalu bekerja. Maka, kalau saya sedang ingin bekerja, bekerja. Kalau enggan, tinggal di rumah, mengasuh anak dan istri." Kini keluarga muda tersebut sudah ditambah gadis kecil, Birdie Filadelfia.

KISAH suksesnya dalam bisnis pemasaran jaringan menjadikan Onggy sering diundang berceramah. Tidak hanya ke kota-kota di Indonesia, tetapi juga ke sejumlah negara tetangga. "Sesudah semakin menghayati, saya kemudian membuka usaha baru, dalam bidang pendidikan, sebagai motivator. Kalau saya bisa kaya, orang lain juga pasti bisa mencapainya"

Menurut keyakinan Onggy, peluang bisnis akan selalu ada. "Selain itu, setiap orang selalu punya potensi dan talenta. Sayangnya, kebanyakan kita sering tidak sadar dan bahkan melalaikannya."

Sebagai motivator laris dan berbicara dalam berbagai seminar, dia selalu menunjuk pada pengalaman pahit masa lalunya. Onggy Hianata berkata, "Sayangnya, banyak orang punya mindset (pola pikir) salah, dampaknya justru kontra produktif terhadap diri sendiri. Gagal adalah sebuah hal biasa. Namun, dari setiap kegagalan, minimal ada pelajaran berharga yang dapat dipetik, yaitu petunjuk menuju sebuah keberhasilan. Kalau saya bisa, mengapa Anda tak bersedia mengubah mindset dan ikut serta meraih sukses?"(Julius Pour)

Sabtu

Apakah bonus di PT. Winalite International besar?

Jika ada yang bertanya apakah bonus Winalite besar, mari kita lakukan hitungan perbandingan:
Jika Anda berhasil merekrut orang untuk membeli produk senilai US $ 984 maka akan mendapat bonus Rp. 1.200.000,-. Berapa waktu yang harus kita dicurahkan untuk melakukan pekerjaan umum, untuk mendapatkan Rp. 1.200.000 ? Mari kita lihat beberapa perbandingan di bawah ini
Bagaimana dengan bisnis rumah ?
Jika Anda menjualkan rumah (makelar), Anda hanya dapat komisi 2,5%. Artinya jika Anda menjual rumah senilai 100 juta Anda hanya mendapat komisi Rp. 2.500.000. Padahal di PT. Winalite Anda bisa mendapatkan Rp. 3.000.000 hanya dengan menjual produk senilai US $ 2.460, dan 3 jt ini belum termasuk bonus omsetnya.
.
Pekerja di Indonesia
UMR rata-rata di Indonesia ditentukan senilai kurang lebih Rp. 500.000 sebulan. Di provinsi tertentu malah jauh lebih kecil. Artinya buruh atau pekerja di Indonesia, kerja setiap hari, selama delapan jam selama minimal 20 hari dengan total jam kerja 160 jam, hanya mendapat penghasilan senilai closing 1 orang yang mau join dengan membeli produk senilai US $ 410 di PT. Winalite.
Bagaimana dengan deposito ?
Jika Anda punya 100 juta dengan bunga 5% (rate ketika rupiah stabil) maka Anda bisa mendapatkan Rp. 500.000 setiap bulan. Tapi berapa lama baru mengumpulkan 100 juta ? Jika anda menyisihkan 1 juta setiap bulan, setelah 100 bulan (8 tahun) baru anda punya 100 juta. 
Berapa banyak di Indonesia yang bisa menabung 100 juta ?
Bagaimana dengan sales mobil ?
Jika Anda menjadi sales mobil, setiap kali anda berhasil menjual satu mobil yang minimal 50 jutaan Anda mendapat bonus Rp. 500.000.
Bagaimana dengan Network Marketing lain ?
Kalau Network Marketing lain, saya tidak bisa berkomentar banyak karena masing-masing pasti ada kelebihan dan kekurangan...tapi perlu diketahui bahwa Network Marketing yang benar-benar oke hanya sedikit dan yang sedikit itu seringkali bonusnya juga sedikit.
Artinya apa ?
Bonus yang Anda dapatkan dari PT. Winalite jauh lebih besar dan lebih simple dari bisnis lain yang ada, belum lagi program-program yang ditawarkan seperti Boot Camp dan Mentoring Program, betul-betul susah dicari bandingannya. Setelah lulus menjadi "seorang mentor" itu baru permulaan, padahal klo sudah mentor bisa dipastikan jaringannya pasti hidup dan bisa 'menghidupi'. Kesempatan ada, kemungkinan juga ada, semua tergantung Anda. Baca terus, pelajari terus, Anda akan menemukan kenapa bisnis di PT. Winalite International bisa berpeluang menuju kebebasan waktu dan kebebasan masalah keuangan .
Anda ingin tahu lebih banyak tentang peluang ini? silahkan hubungi : Agil di agilsmg@yahoo.co.id atau SMS ke no. 024 7012 7065 (Hp.Fleksi).

Tentang Bisnis Jaringan

Opini Negatif Tentang MLM

Seringkali ketika saya membaca postingan/komentar di website/blog, biasanya banyak yang memberikan opini negatif tentang Network Marketing/MLM. Dari yang mengatakan bahwa Network Marketing atau yang umum orang sebut MLM haram, menginjak/memeras downline atau bawahan, disamaratakan dengan Money Game, Sytem Piramida, bisnis tidak jelas, bisnis ecek-ecek, bisnis jailangkung, meminjam istilah salah satu top leader, “datang tidak di undang pulang tidak diantar” saking negatifnya prospek, belum ngomong apa-apa sudah apriori/negatif thinking dsb...biasanya mereka belum mengerti, mereka baru melihat bisnis ini dengan cara mengintip dari jauh, belum mencoba terjun atau ketika terjun kemudian salah jalan akhirnya menganggap sama dengan bisnis Money Game dan sejenisnya.

Network Marketing Salah Satu Cara Distribusi

Pada intinya, mereka memandang bahwa bisnis Network Marketing/MLM adalah Negatif. Tapi coba kita lihat dari prespektif yang lain. Seperti ilustrasi gambar di dibawah ini, “Network Marketing” adalah salah satu cara distribusi barang. Jika suatu Bisnis konvensional (yang umum sekarang ini), dari Manufactur barang didistribusikan ke “Sole Agent” (misalnya ada kita kenal “Agen Tunggal Pemegang Merk”/ATPM merk Mobil), dari sana barang di distribusikan lagi ke “Wholesaler”, didistribusikan lagi ke “Distributor”, kemudian ke Retailer (Toko-toko Ritel), baru dari sana Konsumen boleh berbelanja. Konsumen tidak boleh langsung berbelanja ke “Sole Agent”/”Wholesaler”, tetapi harus lewat Toko Eceran/”Retailer”.

Dari jalur distribusi barang tersebut pabrikan/produsen masih menambah biaya lagi untuk “Biaya Promosi” baik lewat media masa, televisi dan media lainnya, dengan bintang iklan yang sudah populer di masyarakat juga dengan biaya yang lumayan besar. sebenarnya tidak ada yang salah dengan jalur distribusi seperti ini, menurut Paul Zane Pilzer “Distributor” juga sangat diuntungkan dengan model seperti ini, yang akhirnya muncul raksasa semacam “Walmart”, “Amazon” dsb, hanya saja diperlukan modal dan biaya yang sangat besar.
Ada pilihan/alternatif yang lain selain model distribusi diatas yaitu “Network Marketing”, orang umum menyebut MLM (Multi Level Marketing) atau “Mulut Lewat Mulut”, pelaku di grup kami lebih senang dengan istilah “Network Marketing” lebih pas untuk menggambarkan model distribusi barang seperti ilustrasi gambar tersebut di atas.
Dari “Manufactur”/Pabrikan/produsen, barang langsung di distribusikan ke konsumen oleh pelaku/orang yang disebut “Distributor Langsung”, biasanya perusahaan/manufactur mempunyai perwakilan disetiap negara/daerah melalui perantara “Stockis”/”Host Couple” untuk berhubungan dengan “Distributor”, untuk menjadi stokis tentunya harus memenuhi syarat dan kondisi tertentu, dan biasanya pernah mempuyai reputasi yang bagus dari segi administrasi dan omzet sebagai “sub Stockis” sebelumnya, dengan proses yang ketat. Edukasi dan informasi produk sebenarnya lebih terjaga, asal pelaku distribusi kita sebut “Distributor” saja mempunya skill/kemampuan menjadi agen wiraniaga.

Support System/Sekolah Bisnis

Untuk mendukung Skill Distributor, baik mengenai proses distribusi dan product knowledgenya, ada semacam “Sekolah Bisnis” atau “Support System” yang akan memberikan edukasi yang baik agar proses distribusi tersebut dapat berjalan lancar dan baik. Seorang Distributor yang baik hendaknya terus meningkatkan skillnya lewat sekolah bisnis yang ada sehingga dilapangan tidak timbul persepsi-persepsi yang negatif terhadap bisnis ini dan tidak asal main tabrak yang penting joint/bergabung. Pada dasarnya, proses rekruitment member ibarat membuka toko/cabang baru. Semakin banyak cabang yang di rekrut akan semakin memperbesar omzet yang akhirnya akan memperbesar bonus kita juga. Kita sebut istilah “Downline”, kalau “Downline Langsung” kita sebut “Frontline”, diatasnya langsung/yang mengenalkan bisnis kita sebut “Sponsor”, mitra bisnis diatas sponsor kita masih dalam 1 jalur distribusi kita sebut “Upline”. Bisnis ini sering orang salah tafsir, bahwa upline seperti atasan kita, dan downline seperti bawahan kita, yang seharusnya adalah upline adalah mitra kerja kita sebagai konsultan, sedangkan downline adalah IBO (Independent Bussiness Owner), Wirausaha mandiri sebagaimana kita, tidak ada atasan/bos di bisnis ini.

Marketingplan/Rencana Pemasaran

Jika kita mengacu suatu marketingplan/rencana pemasaran suatu perusahaan MLM, maka seharusnya bonus-bonus yang diterima dari distributor adalah diambilkan dari keuntungan atas omzet distribrusi/penjualan product dari perusahaan MLM tersebut, bukan dari hasil keuntungan pendaftaran Member baru (Money game), downline/jaringan dibawahnya tidak dirugikan, downline tidak membayar upline-nya atas keuntungan barangnya, prinsipnya siapa yang menghasilkan omzet/penjualan, bonus perusahaan lebih besar kepada penghasil omzet tersebut, jadi betul-betul menganut fair system dan yang "nganggur" hanya mendapat sedikit bahkan sangat mungkin tidak mendapat apa-apa.
Upline mendapatkan keuntungan tidak sebesar apa yang “Distributor” peroleh dari omzet penjualannya, tetapi Upline (tentunya ada kondisi/syarat tertentu) mendapatkan prosentase komisi dari jaringannya. “Syarat tertentu” di berlakukan untuk menjaga agar perusahaan tidak bangkrut dalam jangka waktu yang panjang, hal ini menurut saya adalah system yang fair, perusahaan dan distributor sama-sama di untungkan. Telitilah Marketing plannya secara seksama.
Juga masalah kewajiban belanja bulanan/tutup point, jangan tergoda atas tawaran perusahaan MLM yang tidak ada kewajiban belanja bagi membernya. Perusahaan dan distributor menghasilkan omzet salah satunya adalah dari repeat order dan pembelanjaan dari anggota baru (bukan pendaftaran, beda sekali dengan money game, money game tidak ada produk dan repeat order). Juga telitilah masalah kewajiban belanja ini, ada perusahaan MLM yang menerapkan, bahwa anggota yang baru bergabung sudah diwajibkan ada belanja/penjualan bulanan. Pasti diawal-awal, apalagi distributor yang tidak mempunyai pengalaman MLM/bisnis ini sebelumnya akan sangat berat. Dan seharusnya kewajiban belanja ini disesuaikan dengan peringkat dan rata-rata bonus yang diterima, makin tinggi level/peringkatnya harusnya makin tinggi pula “tutup point/kewajiban belanja/kewajiban penjualan”, ada juga perusahaan yang makin tinggi levelnya malah tutup pointnya makin kecil, jelas level/peringkat terbawah/member baru sangat dirugikan.

Hukum MLM

Untuk masalah halal/haram MLM dikalangan ulama juga masih menjadi perdebatan, intinya harus bebas/bersih terhadap “unsur penipuan”, yang jelas pilihlah MLM yang fair system marketingplannya, seperti gambar konsep distribusi diatas, “makin banyak omzet yang dihasilkan maka yang bersangkutan yang akan mendapat bonus yang paling besar”. Distribusi barang terjadi karena memang ada kebutuhan setiap manusia, dan harga-harga barangnya juga transparan antara harga distributor dan harga konsumen. Harga sewaktu produk MLM yang masuk suatu negara biasanya tetap tidak mengalami kenaikan dan tidak fluktuatif seperti harga barang komoditi yang menyesuaikan harga BBM, kalaupun ada kenaikan biasanya dalam jangka waktu yang panjang bahkan tahunan harganya cenderung stabil.

Harga Produk

Jika dikatakan produk perusahaan yang dijual dengan system Network Marketing lebih mahal, sebenarnya kalau dihitung lebih detail lagi harganya relatif lebih murah, terutama jika kita membandingkan dengan produk yang lain, haruslah kita perhatikan barang/produk pembandingnya, kualitas barangnya, jumlah barangnya, kegunaan/kasiatnya dsb. Dan juga biasanya untuk menjaga reputasinya, perusahaan MLM akan meneliti dan mengkaji produk-produknya lebih mendalam sebelum di tawarkan kepada masyarakat, dan produk yang ditawarkan rata-rata produk yang sangat berkualitas dan tidak ada/tidak di jual di supermaket/tempat umum, "lebih eksklusif" dan "anti pemalsuan".

Paradigma Network Marketing

Semuanya kembali lagi ke “Paradigma” diri kita masing-masing, tergantung paradigma masing-masing orang, paradigma yang benar akan membuat action yang berbeda dan hasil yang di peroleh pun akan berbeda pula.
Sudah sering di ilustrasikan, ada seorang calon investor sepatu yang akan mendirikan pabrik sepatu di sebuah negara di Afrika, mereka mengirimkan 2 orang surveyornya. Surveyor yang pertama melaporkan bahwa disana belum ada seorangpun yang memakai sepatu, jadi bisa di pastikan perusahaan sepatu yang akan di bangun pasti merugi. Tetapi berbeda pandangan Surveyor kedua, dia berpikir potensinya masih sangat besar, belum ada pesaing dari perusahaan manapun yang akan mendirikan pabrik sepatu disana, dan potensi perusahaan sepatu masih sangat besar, pangsa pasarnya jelas, pesaingnya bahkan tidak ada. Semuanya kembali ke paradigma dan sudut pandang akan sesuatu masalah.
Bisnis apapun asal kita tahu caranya dan full heart/sepenuh hati dalam menjalankan, cepat atau lambat kita akan menerima manfaatnya. Energi yang kita keluarkan akan sebanding dengan energi yang akan kita terima.
Masih berpikir negatif tentang MLM?
Sumber : http://www.sejutablog.com/mlm-yes-or-no/
Konvensional ataupun MLM masing-masing ada kelebihan dan kekurangan...masing-masing juga bisa halal maupun haram

 

Anion Sehat | Pembalut Anion | Winalite Lovemoon Anion Copyright © 2012 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop