10/2009

Laman

Sabtu

Kota-kota di Indonesia

Daftar kota di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Berikut merupakan daftar kota di Indonesia berdasarkan pulau-pulau besar atau provinsi:

Daftar isi :


Sumatera

Jawa

Nusa Tenggara

Kalimantan

Sulawesi

Maluku dan Papua

Pro-Kontra Tentang Vaksin Kanker Serviks

Vaksin Kanker Serviks Masih Dipertanyakan?

Jakarta- FDA berhasil menyetujui dua vaksin pencegah penyakit menular seksual yaitu Cervavix untuk wanita dan Gardasil untuk laki-laki. Namun hal ini masih mengundang kontroversi. Centravix adalah vaksin yang ditujukan kepada anak perempuan untuk mencegah infeksi HPV (Human Papilloma Virus) atau lebih dikenal dengan kanker serviks.

Namun perdebatan mulai berkembang, ketika vaksin harus diberikan pada anak perempuan yang masih berumur 11 tahun. Perdebatan lain adalah vaksin HPV ini juga mendorong perilaku seksual secara aktif, yang sebenarnya dapat dihindari dengan penundaan seks dan tetap setia pada pasangannya. (monogamy).

Untuk menghindari seks hanyalah sebuah dongeng. Banyak kejadian sekitar 80% perempuan terinfeksi HPV pada saat berusia 50 tahun, dan belum pernah berhubungan seks selain dengan suaminya sendiri. Jadi Vaksin HPV untuk usia 11 tahun untuk menghindari kanker dan bukan pada umur 20-40 tahun dimana sistem kekebalan tubuh sudah mulai berkurang

Pendapat lain menjelaskan bahwa seks dan moralitas tidak perlu dimasukkan dalam diskusi HPV, namun hanya mempertimbangkan keuntungan dan resiko saja. Vaksin, secara umum, memberikan manfaat besar dengan sedikit resiko. Kisah suksesnya adalah polio dan campak. Vaksin ini dapat mencegah ratusan juta kematian pada abad ke 20. Vaksin lain yaitu vaksin varicella atau cacar air, dimana di Amerika Serikat, pada awal 1990-an, sebelum pengenalan vaksin terdapat sekitar 4 juta kasus tahunan cacar air.

Vaksin HPV menimbulkan pertanyaan serupa manfaat, terutama di Amerika di mana tahunan 4.000 kematian akibat kanker serviks umumnya dapat dicegah dengan rutin pap smear.

Logika berpikir untuk hal ini adalah berpikir secara global. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, ada sekitar setengah juta kasus kanker serviks didiagnosa setiap tahun dan lebih dari seperempat juta berpotensi menyebabkan kematian.

Beberapa dokter, meskipun, tidak siap untuk memberikan vaksin HPV untuk anak perempuan atau anak laki-laki mereka. Pada bulan Agustus, Journal of American Medical Association (JAMA) menerbitkan dalam sebuah editorial yang mempertanyakan keuntungan versus risiko. Risiko masih anekdot: Menurut CDC, 25 juta dosis vaksin telah didistribusikan di Amerika Serikat, dan telah ada beberapa ratus laporan efek samping yang serius, termasuk 32 kematian.

Namun laporan datang melalui Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS). Ini adalah dari orang-orang biasa yang mengatakan mereka atau anak mereka mendapat vaksin dan sesuatu yang buruk terjadi. Itu tidak berarti ada hubungannya. Meskipun demikian, JAMA editorial tidak memiliki jawaban pasti, ya atau tidak, apakah vaksin HPV worth it atau tidak? (ap)

Sumber : http://www.technologyindonesia.com/news.php?id=1577

13 Fakta Kanker Serviks

13 FAKTA Kanker Serviks

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penyakit kanker serviks merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. Di dunia, setiap dua menit seorang wanita meninggal dunia akibat kanker serviks. Jadi, jangan lagi memandang ancaman penyakit ini dengan sebelah mata. Berikut 13 hal yang wajib Anda ketahui tentang kanker serviks.

  1. Apa itu kanker serviks?

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah jenis penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu, bagian rahim yang terletak di bawah, yang membuka ke arah liang vagina. Berawal dari leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh.

  1. Seberapa berbahaya penyakit kanker serviks ini?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan kira-kira sebanyak 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.

  1. Apa penyebab kanker serviks?

Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18. Namun, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.

  1. Bagaimana penularan kanker serviks?

Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital. Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.

  1. Apa saja gejala kanker serviks?

Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut. Yaitu, munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, perdarahan di luar siklus menstruasi, serta penurunan berat badan drastis. Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung, hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.

  1. Berapa lama masa pertumbuhan kanker serviks?

Masa preinvasif (pertumbuhan sel-sel abnormal sebelum menjadi keganasan) penyakit ini terbilang cukup lama, sehingga penderita yang berhasil mendeteksinya sejak dini dapat melakukan berbagai langkah untuk mengatasinya. Infeksi menetap akan menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang akhirnya dapat mengarah pada perkembangan kanker. Perkembangan ini memakan waktu antara 5-20 tahun, mulai dari tahap infeksi, lesi pra-kanker hingga positif menjadi kanker serviks.

  1. Benarkah perokok berisiko terjangkit kanker serviks?

Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara kebiasaan merokok dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker serviks. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Karolinska Institute di Swedia dan dipublikasikan di British Journal of Cancer pada tahun 2001. Menurut Joakam Dillner, M.D., peneliti yang memimpin riset tersebut, zat nikotin serta “racun” lain yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. “Cervical neoplasia adalah kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang,” ujarnya.


  1. Selain itu, siapa lagi yang berisiko terinfeksi kanker serviks?

Perempuan yang rawan mengidap kanker serviks adalah mereka yang berusia antara 35-50 tahun, terutama Anda yang telah aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun. Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa meningkatkan risiko terserang kanker leher rahim sebesar 2 kali dibandingkan perempuan yang melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun. Kanker leher rahim juga berkaitan dengan jumlah partner seksual. Semakin banyak partner seksual yang Anda miliki, maka kian meningkat pula risiko terjadinya kanker leher rahim. Sama seperti jumlah partner seksual, jumlah kehamilan yang pernah dialami juga meningkatkan risiko terjadinya kanker leher rahim.

Anda yang terinfeksi virus HIV dan yang dinyatakan memiliki hasil uji pap smear abnormal, serta para penderita gizi buruk, juga berisiko terinfeksi virus HPV. Pada Anda yang melakukan diet ketat, rendahnya konsumsi vitamin A, C, dan E setiap hari bisa menyebabkan berkurangnya tingkat kekebalan pada tubuh, sehingga Anda mudah terinfeksi.

  1. Bagaimana cara mendeteksi kanker serviks?

Pap smear adalah metode pemeriksaan standar untuk mendeteksi kanker leher rahim. Namun, pap smear bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan asam asetat (cuka) yang relatif lebih mudah dan lebih murah dilakukan. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi Hybrid Capture II System (HCII).

  1. Bisakah kanker serviks dicegah?

Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara tidak berhubungan intim dengan pasangan yang berganti-ganti, rajin melakukan pap smear setiap dua tahun sekali bagi yang sudah aktif secara seksual, memelihara kesehatan tubuh, dan melakukan vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan kontak secara seksual.

  1. Haruskah mengambil vaksinasi HPV untuk kanker serviks?

Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker serviks. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus sebelum memasuki sel-sel serviks. Selain membentengi dari penyakit kanker serviks, vaksin ini juga bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.

Yang perlu ditekankan adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%. Ada kabar gembira, mulai tahun ini harga vaksin yang semula Rp 1.300.000,- sekali suntik menjadi Rp 700.000,- sekali suntik.

  1. Apakah vaksinasi kanker serviks ini memiliki efek samping?

Vaksin ini telah diujikan pada ribuan perempuan di seluruh dunia. Hasilnya tidak menunjukkan adanya efek samping yang berbahaya. Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah demam dan kemerahan, nyeri, dan bengkak di tempat suntikan. Efek samping yang sering ditemui lainnya adalah berdarah dan gatal di tempat suntikan. Vaksin ini sendiri tidak dianjurkan untuk perempuan hamil. Namun, ibu menyusui boleh menerima vaksin ini.

  1. Kalau sudah terinfeksi kanker serviks, bisakah disembuhkan?

Berhubung tidak mengeluhkan gejala apa pun, penderita kanker serviks biasanya datang ke rumah sakit ketika penyakitnya sudah mencapai stadium 3. Masalahnya, kanker serviks yang sudah mencapai stadium 2 sampai stadium 4 telah mengakibatkan kerusakan pada organ-organ tubuh, seperti kandung kemih, ginjal, dan lainnya. Karenanya, operasi pengangkatan rahim saja tidak cukup membuat penderita sembuh seperti sedia kala. Selain operasi, penderita masih harus mendapatkan terapi tambahan, seperti radiasi dan kemoterapi. Langkah tersebut sekalipun tidak dapat menjamin 100% penderita mengalami kesembuhan.

Source : http://www.kompas.com/read/xml/2009/03/27/13235013/13.fakta.kanker.serviks.1
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/27/13310210/13.fakta.kanker.serviks.2

Salah satu solusi tepat dan terjangkau adalah dengan mengganti pembalut yg biasa dipake dengan ANION….kenapa??? karena :

  1. Setiap pak berhadiah langsung ‘alat test’ deteksi dini kanker serviks dan sudah dipatenkan di 162 negara dan bisa dilakukan secara mandiri.
  2. Dengan teknologi ANION/Ion Negatif, maka virus yang menginfeksi ‘rahim’ bisa ‘dibantai’…dan inipun sudah dipatenkan di 162 negara…jadi perusahaan lain tidak boleh meniru.
  3. Dengan memakai ANION saat ‘datang bulan’…serasa seperti hari-hari biasa karena saking nyamannya…dan benar-benar kering – aman dari kelembaban dan kebocoran

Mendapat "Vonis Mati" bukan akhir dari segalanya.

Oleh : Agil Siswo Heksanto

Cerita ini asli dan benar-benar terjadi...dan yang bersangkutan juga masih segar bugar.

Barangkali banyak diantara kita yg 'bisa' memberikan solusi pengobatan ketika ada seseorang yg terkena kanker serviks masih stadium awal....tetapi akan menjadi berbeda ketika pasien sudah terkena kanker serviks stadium lanjut (organ tubuh yang lain mulai terjangkit...sehingga pengangkatan rahimpun bukan solusi yang tepat)...sebagaimana yang dialami ibu TRI dalam kisah berikut ini.

Banyak juga diantara kita yang merasa aman dengan kondisi tubuh yang sehat...karena dengan kondisi sehat kita merasa bisa hidup 100 tahun lagi...namun matinya makhluk Allah itu sesuai kehendak Allah...bisa jadi jatah hidup kita tinggal seminggu lagi...atau sebulan lagi.

Misalnya Allah dengan 'kehendak-Nya' memberitahukan kepada kita bahwa 3 bulan lagi kita akan meninggal dunia....maka bisa dipastikan kita akan stress karena merasakan kalau waktu 3 bulan sangat sempit untuk melakukan 'kebaikan' demi menutup dosa-dosa kita selama ini...atau bisa jadi kita bisa memberikan potensi terbaik kita selama 3 bulan terakhir itu untuk berkarya...sebagaimana kisah berikut ini.

Sore, tanggal 24 Oktober 2009 seorang ibu bernama TRI bercerita tentang perjalanan hidupnya dua tahun ini di sebuah acara seminar motivasi berjudul D & A Nite.

2 tahun yang lalu ibu TRI divonis akan meninggal dunia paling lama 3 tahun lagi karena sudah terinfeksi 'kanker serviks stadium lanjut', saat itu anaknya masih kecil2....dan bagaikan disambar petir rasanya mendengar vonis itu...mungkin bagaikan seorang napi yang divonis hukuman mati.

Setelah merenung akhirnya beliaupun menerima apa yang akan terjadi...hanya saja beliau sedikit bingung...apa yang bisa diwariskan buat anak2nya tercinta selepas beliau meninggalkan dunia yang fana ini.

Sampai suatu hari ada seorang sahabatnya yang menawarkan ANION...sebuah produk yang berkaitan erat dengan kanker serviks. Sebenarnya beliau tertarik karena produknya benar-benar meyakinkan...adalah normal ketika seseorang meskipun dokter sudah memberi 'vonis'...tetap aja mengharapkan mukjizat dari Allah.

Akhirnya beliau bergabung...selain mengharapkan kesembuhan dengan memakai ANION menggantikan produk yang biasa beliau pakai, meski untuk mengharapkan kesembuhan terasa kurang masuk akal, tapi minimal bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya selama ini...ibu TRI juga berusaha menjalankan bisnisnya dengan harapan bisa memberikan warisan yang layak buat anak2nya.

Hari demi hari dilalui dengan penuh semangat karena memang beliau di komunitas ANION selalu ketemu dengan orang-orang yg semangat dan berpikiran positif...sampai-sampai malampun terasa pagi hari.

Tanpa terasa bisnisnya mulai menghasilkan...dan setiap step by stepnya beliau nikmati dengan penuh semangat...Akhirnya beliau lulus menjadi seorang mentor kemudian naik menjadi Eksekutif Mentor...dan pada sore hari itu beliau naik panggung menjadi Senior Mentor.

Setiap acara yg diadakan oleh ANION selalu beliau ikuti..penghasilannyapun semakin besar saja...sehingga beliau sudah semakin tenang untuk menjemput ajalnya karena sudah benar-benar mendapatkan penghasilan yang sangat besar setiap bulannya.

Sampai suatu saat beliau meluangkan waktu untuk memeriksa kesehatan dan betapa kagetnya ketika hasil test menyatakan bahwa kanker serviks yang selama ini dideritanya ternyata sembuh...hasil testnya -negatif-

Padahal kita semua tahu klo kanker serviks benar-benar tanpa gejala; dan apabila seorang perempuan terkena kanker ini, maka bisa dipastikan hubungan suami-istri dijamin mengalami gangguan...bahkan bagi suami yang nggak sabar bisa menceraikannya.

Yang dialami ibu TRI bisa menimpa siapa saja...bahkan saya pribadipun sangat terinspirasi mendengar kisah beliau. Nasib kitapun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan beliau...pasti semua setuju klo umur manusia itu hanya Allah yang tahu...sangat mungkin klo kita 3 hari lagi akan meninggal tapi jarang diantara kita yang bener-bener mencari bekal untuk kehidupan akhirat serta berusaha meninggalkan yang terbaik untuk anak2....atau kita menunggu 'vonis mati' dari dokter agar bisa mengeluarkan seluruh potensi kita????

Oleh karena itu "Berkaryalah - Action sebaik mungkin - sampai Allah/Tuhan 'terharu' ...karena sesungguhnya pertolongan Allah pasti datang...Allah itu Maha Tahu apa2 yang dibutuhkan makhluk-Nya"

Berdalih itu hal yang mudah dilakukan...karena 1001 alasan selalu ada dan masuk akal...inilah yang menghambat potensi kita karena terlalu banyak alasan dan terlalu seringnya memaafkan atas kelalaian kita selama ini.

Demikian semoga bermanfaat.....

Dan terkait kanker serviks sebenarnya ada metode murah dan efektif utk mencegahnya...yaitu dg mengganti pembalut yg biasa dg ANION...kenapa? {sekalian promosi :) tapi sdh terbukti}...alasannya :

Kenapa Anion bisa efektif mencegah Kanker Serviks???
1. Setiap pak 'berhadiah langsung "Alat Test Deteksi Dini Kanker Serviks" dan sudah dipatenkan di 162 negara dan bisa digunakan secara mandiri.
2. Dengan teknologi ANION /Ion Negatif, akan membantai virus HPV apabila di dalam 'leher rahim' terinfeksi HPV (penyebab utama kanker serviks)...dan sudah dipatenkan di 162 negara.
3. Biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah dibanding metode pencegahan yang lain.
4. Perlu di INGAT bahwa kanker serviks benar-benar 'tanpa gejala'.
5.Dengan memakai ANION ketika haid...seperti nggak haid krn saking nyamannya, terasa sangat kering dan tidak lembab / bebas dari 'rasa
becek'.

Rabu

"ANION" Solusi Cerdas Cegah Kanker Serviks

Kenapa Anion bisa efektif mencegah Kanker Serviks???

  1. Setiap pak 'berhadiah langsung' Alat Test Deteksi Dini Kanker Serviks dan sudah dipatenkan di 162 negara dan bisa digunakan secara mandiri.
  2. Dengan teknologi ANION /Ion Negatif, akan membantai virus HPV apabila di dalam 'leher rahim' terinfeksi HPV (penyebab utama kanker serviks)...dan sudah dipatenkan di 162 negara.
  3. Biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah dibanding metode pencegahan yang lain.
  4. Perlu di INGAT bahwa kanker serviks benar-benar 'tanpa gejala'.

FAKTA "Vaksin Kanker Serviks"

Divaksin Kanker Serviks, ABG Tewas

Selasa, 29 September 2009 - 13:10 wib
Nurfajri Budi Nugroho - Okezone
Natalie Morton (Foto: Telegraph)
Sumber : http://international.okezone.com/read/2009/09/29/18/260770/divaksin-kanker-serviks-abg-tewas

LONDON - Natalie Morton, seorang pelajar berusia 14 tahun, tewas setelah diberi vaksin kanker serviks. Insiden tersebut memicu desakan agar program imunisasi itu dihentikan.

Remaja itu merupakan satu dari empat teman sekolahnya yang menderita efek samping di Blue Coat CofE School di Coventry, West Midlands, Inggris, setelah menerima suntikan dalam program imunisasi nasional. Sesudah imunisasi, dia dilarikan ke University Hospital di mana dia tewas pada sore harinya.

Tiga gadis lainnya menderita sakit kepala dan mual setelah disuntik dengan Cervarix, yang merupakan vaksin untuk mencegah human papilloma virus (HPV). Namun mereka tidak memerlukan perawatan di rumah sakit.

Setumpuk vaksin dikarantina setelah kejadian itu dan investigasi pun digelar. Demikian seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (29/9/2009).

Dr Caron Grainger, pejabat kesehatan Coventry, mengatakan insiden tersebut terjadi tak lama setelah Morton menerima vaksin. "Namun belum bisa disimpulkan apakah ada kaitan antara kematian dan vaksin, sampai seluruh fakta diketahui dan pemeriksaan mayat dilakukan," kata dia.

Tragedi ini merupakan kasus kematian yang pertama kalinya dilaporkan di Inggris, semenjak program vaksinasi nasional dimulai bulan ini, dengan 1,5 juta dosis diberikan untuk para gadis.

Sebuah grup untuk mengenang Morton pun dibuat di situs jejaring sosial Facebook, dan telah memiliki 200 anggota hingga tadi malam.

Seorang teman, Suzie Grace Gee, menulis: "Sungguh gadis yang menyenangkan. Selalu ada senyum di wajahnya! Ini mengejutkan bagi semua orang, dan akan menjadi aneh tidak melihat dia setiap Minggu di gereja. Dia akan selamanya dirindukan, dan doa saya bersama keluarga".(jri)

Waspada Kanker Serviks, Kombinasi Papsmear & Vaksin

Sumber : http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/09/17/27/146687/waspada-kanker-serviks-kombinasi-papsmear-vaksin

RUTIN papsmear tidak menjamin seorang wanita terbebas sepenuhnya dari kanker serviks. Lengkapi dengan vaksinasi sebagai upaya pencegahan primer dari kanker tersebut.

Sebagai seorang dokter kandungan, Irene tentu memiliki tingkat kewaspadaan lebih baik terhadap penyakit. Namun, kenyataan bahwa HPV (human pappiloma virus) penyebab kanker serviks menginfeksi rahimnya tidak pernah terpikir sebelumnya. "Setahun setelah menikah, saya rutin papsmear setahun sekali, dan saya juga tidak ada riwayat keluarga penderita kanker serviks," tuturnya.

Dokter cantik yang praktik di Medika Plaza Jakarta itu mengisahkan awalnya merasakan ketidaknyamanan pada sistem reproduksinya, yakni ketika durasi menstruasinya berubah dari dua hari menjadi seminggu. "Sejak awal saya menstruasi terbiasa dua hari. Namun, enam bulan setelah terkena demam berdarah, tepatnya pada Februari 2001, mens saya berubah jadi seminggu. Pernah juga baru selesai menstruasi, beberapa hari kemudian kok sudah mens lagi," kenangnya.

Kejanggalan itu awalnya disangka sebagai gangguan hormonal. Namun, hasil tes menyatakan tak ada masalah. Demikian halnya papsmear dan kuret rahim yang dijalaninya tak menemukan indikasi penyakit. "Semua tes menyatakan saya sehat, tapi saya merasa tidak nyaman karena mens saya makin tidak karuan, darah yang keluar kadang banyak sekali disertai sakit di perut bagian bawah dan sekitar pinggang," paparnya.

Ketidaknyamanan itu kemudian mendorong Irene untuk melakukan operasi pengangkatan rahim. "Saya pikir, buat apa nyimpen penyakit. Diangkat sajalah," katanya. Akhirnya pada Juli 2001, pada usianya yang ke-43, rahim ibu empat anak ini diangkat. Pascaoperasi, rahim Irene yang sebesar telur ayam dan tampak sehat tanpa adanya pembengkakan itu diperiksa di laboratorium patologi. Hasilnya, ditemukan infeksi HPV di area rahim dan leher rahim (serviks).

"Tapi letaknya tidak di permukaan serviks, melainkan tersembunyi di area dalam, di antara lekukan serviks dan rahim," kata Irene yang kemudian melakukan vaksinasi HPV pada 2007 silam. "Saya bersyukur karena penyakit ini belum menyebar, tapi HPV tipe lain juga bisa menyerang lagi kapan pun. Makanya saya putuskan untuk divaksin," kata wanita berkulit putih itu.

Irene termasuk wanita yang beruntung karena segera menyadari adanya ketidakberesan pada tubuhnya dan segera bertindak mengatasinya. Namun, berapa banyak wanita di dunia ini yang tidak menyadari kehadiran HPV dan hidupnya berakhir di ujung penyakit bernama kanker serviks? Menurut WHO, tiap tahun di seluruh dunia 490.000 perempuan didiagnosis menderita kanker serviks, dan 240.000 di antaranya meninggal dunia. Angka ini setara dengan satu kematian tiap dua menit.

"Di Indonesia sendiri, setiap hari ditemukan 41 kasus baru dengan 20 kematian per hari. Sekitar 80 persen kasus kanker serviks juga terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia," sebut spesialis kebidanan dan kandungan dari FKUI/RSCM Jakarta, Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG (K), yang akrab disapa Ovy.

Separuh dari wanita yang terdiagnosis kanker serviks berusia antara 35-55 tahun. Sungguh ironis karena rentang usia tersebut seorang wanita biasanya masih aktif berkarier dan mengurus keluarga. Itulah sebabnya, semua wanita yang sudah menikah atau pernah berhubungan seksual disarankan melakukan deteksi dini dengan papsmear, yakni pengambilan sel dari serviks untuk diperiksa dengan mikroskop, guna mengetahui adanya kelainan pada serviks. Papsmear "diwajibkan" setidaknya tiga tahun setelah menikah atau berhubungan intim, dan sebaiknya rutin dilakukan setahun sekali.

Namun, pemeriksaan ini juga memiliki keterbatasan karena sifatnya yang subjektif. Diperkirakan, 25 persen kegagalan skrining dengan papsmear karena kesalahan dalam cervical sampling atau dalam menginterpretasi hasilnya. Dengan metode konvensional, preparat sering kali mengandung darah, lendir, sel-sel inflamasi, dan sel-sel yang menumpuk sehingga menurunkan akurasi interpretasinya. "Kegagalan papsmear berkisar 10 persen-60 persen," kata Ovy.

Nah, saat ini kanker serviks bisa dikatakan sebagai satusatunya kanker yang dapat dicegah melalui vaksinasi. Untuk itu, selain rutin papsmear, upaya memproteksi diri dari kanker rahim hendaknya dilengkapi dengan vaksinasi HPV. Vaksin ini efektif diberikan pada wanita semua umur, dan dapat diberikan sejak usia 9 tahun. Di Indonesia, vaksin ini sudah mulai digunakan sejak Juni 2007 dan bisa diberikan mulai usia 14 tahun dengan tiga kali injeksi.

 

Anion Sehat | Pembalut Anion | Winalite Lovemoon Anion Copyright © 2012 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop